Minggu, 20 November 2011

kasih sayang orang tua


    Di pagi buta ayah sudah terbangun dari tidurnya,dimana aku masih terlelap dalam tidurku. Ayah bersiap-siap untuk pergi bekerja agar bisa mencukupi biaya hidup keluarganya. Dia tidak lupa untuk melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu,agar selalu di ridhoi oleh ALLAH SWT.
    Ketika aku terbangun dari tidurku,aku bertanya pada ibu.” Ibu kemana ayah?.” Ibu menjawab “ayahmu sudah pergi bekerja anakku.” Dengan polosnya aku hanya bisa menjawab “ooowh.” Lalu ibu mengajakku mandi. Setelah mandi ibu menyuruhku untuk makan. Setiap hari ibu selalu membereskan rumah dan merawatku. Ibu selalu sabar menghadapi kelakuan nakalku.
    Setiap harinya aku selalu tidak pernah bertemu dengan ayah ketika  bangun tidur,bahkan ketika malam pun aku jarang sekali bisa bermain dengannya karena ia lelah setelah seharian bekerja. Sampai suatu hari aku mulai menyadari bahwa aku kurang akan perhatian dan kasih sayang  dari seorang ayah. Ketika aku mulai memasuki sekolah dasar,aku tidak pernah di jemput oleh ayah. Bahkan ketika orang tua di panggil guru untuk menggambil raport anaknya, ayah pun tidak sempat untuk menemaniku dan hanya ibu lah yang datang menemaniku.
    Suatu ketika aku yang sudah mengerti akan sebuah perhatian dan kasih sayang  dari seorang ayah yang selama ini tidak aku dapatkan. Aku marah, aku menuntut kasih sayang dari ayah. Aku tidak mendengarkan nasehat dari ibu.”anakku bukan karena ayahmu tidak sayang padamu,tapi dia bekerja untuk kita juga.” Tapi aku tetap tidak mendengarkan kata-kata ibu. Keesokan harinya aku menjadi anak yang nakal dan tidak pernah mendengarkan kata-kata ibu lagi. Dan perubahan sikap aku membuat ayah marah. Sehingga ayah pun tega memukulku. Tapi aku tidak pernah jerah, bahkan aku semakin nakal.
    Hari-hari berlalu,aku pun  mulai memasuki sekolah menengah pertama. Di waktu itu kehidupan keluargaku semakin membaik. Aku yang dulu hanya bisa naik sepeda saat berangkat kesekolah, sekarang ayah membelikan ku sepeda motor untuk ku berangkat sekolah. Tapi itu semua tidak mengubah sikap nakalku. Aku jarang sekali berada dirumah. Aku tidak pernah membantu ibu atau pun ayah di rumah. Yang aku tahu hanyalah sekolah dan bermain. Tapi ibu dan ayah selalu sabar menghadapiku. Mereka tidak pernah menyuruhku untuk membantu mereka, bahkan mereka selalu menyuruhku pergi bermain. Karena mereka tidak mau melihatku hanya di rumah saja dan tidak ada pergaulannya.
    Tahun berganti tahun mulai lah aku memasuki sekolah menengah atas. Saat itu aku memutuskan untuk kost karena sekolahku yang jauh dari rumah kami. Dan saat itu kehidupan keluargaku mencapai kesuksesan. Ayah mampu membeli mobil dan apa yang aku mau bisa di berikan oleh ayah. Saat aku mulai menjalani kehidupanku sebagai anak kost, aku mulai terbiasa mengatur keuangan dan merawat diriku sendiri. Tapi ayah dan ibu selalu memanjakanku. Mereka tidak pernah melarangku untuk berbelanja dan menghabiskan banyak uang untuk makanan yang aku mau. Mereka tidak pernah membatasi berapa uang yang harus aku habiskan dalam sebulan. Karena itulah aku menjadi boros dan tidak pernah peritungan akan uang yang aku keluarkan.
    Hingga suatu ketika aku menemukan seorang teman yang kehidupannya di bawah sederhana. Dia selalu memperhitungkan uang yang akan di gunakannya. Bahkan untuk membayar uang sekolah dan membeli buku pun dia sulit dan selalu telat. Dan aku juga menemukan seorang teman yang selalu mementingkan penampilannya. Dan ternyata penampilannya tidak sesuai dengan kehidupan dia sebenarnya. Dia melakukan itu karena menutupi kekurangan dalam hidupnya, dia tidak ingin orang lain  tahu kalau sebenarnya dia hanyalah orang biasa. Dari semua hal yang aku ketahui dan aku merenung di suatu malam di dalam kost di atas tempat tidurku. Aku merenung dan berpikir jauh kebelakang akan kehidupanku yang selama ini. Dengan meneteskan air mata aku menyadari bahwa semua yang aku lakukan selama ini salah. Aku sadar ternyata apa yang pernah ibu katakan itu benar. Ayah bekerja itu untuk kebahagiaanku juga, dan kini aku merasakan jerih payah kerja keras ayah yang sekarang telah sukses dan aku bisa hidup lebih dari kecukupan. Dari sini aku mulai lebih menghargai uang karena aku sadar mencari uang itu tidak lah mudah seperti apa yang ayah lakukan. Aku selalu bersyukur atas apa yang ALLAH berikan sekarang padaku dan keluargaku. Aku sangat bersyukur karena ALLAH memberikan ku kedua orang tua yang sangat menyayangiku dan mampu membuatku hidup berkecukupan. 
BY : CIA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar